Jangan Minta Cariin Jodoh Kalau Belum Niat

Judul ini bertahan hampir satu setengah tahun lamanya. Awalnya mau jadi ajang curahan kegemasan saya. Tapi urung dilakukan. Mungkin akan lebih baik bila ditahan dulu kegemasan saya itu daripada keluar tulisan yang kurang sedap dibaca.

Judul diatas mungkin bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kekecewaan terhadap orang lain. Ya memang begitu adanya. Begini sejarahnya. Waktu itu berlandaskan niatan baik untuk menghubungkan teman-teman yang masih single maka kami berniat menjodohkan antara teman laki-laki dan perempuan. Awalnya saya sudah menanyakan ke pihak laki-laki (teman saya) serius atau tidak. Demi mengetahui kalau dia serius maka saya mantapkan diri untuk memprosesnya. Proses taaruf pun bermula.

Awal proses adalah nanting pihak perempuan, mau tidak kalau dicoba bantu cari jodoh. Kebetulan ada laki-laki yang siap. Dijawab olehnya mau. Yup gayung bersambut. Tahap pertama adalah bertukar biodata. Dan kami harus profesional bahwa biodata harus aman tanpa bocor informasinya ke pihak maisng-masing. Jelas sekali kami tidak berkepentingan untuk tahu isinya. Kami hanya sebagai penghubung, tidak lebih. Sempat kami tanyakan ke pihak perempuan bagaimana tanggapan awal setelah pertukaran itu. Dari pihak perempuan insya Allah lanjut. Alhamdulillah, demikian ucap kami saat itu. Gimana tidak, ganjalan atau kendala utama proses ta’aruf adalah bila pihak wanita tidak setuju lanjut.

Sampai saat itu saya yakin kalau ini bakal sukses mengingat pihak laki-laki pernah saya tanya bagaimana pendapat tentang perempuannya. Kebetulan pernah ketemu di apotek kami. Jadi jelas dalam pandangan kami pihak laki-laki tinggal menunggu kata iya dari pihak perempuan.

Waktu berlanjut. Setelah pertukaran biodata itu rupanya ada komunikasi antara mereka. Dan cukup kaget kami ketika tiba-tiba pihak perempuan membatalkan kemungkinan untuk lanjut. Telisik punya telisik, ternyata pihak laki-laki masih menunggu pihak lain perempuan). Sebenarnya saya juga pernah diceritai oleh teman saya itu bahwa saat ini masih menunggu kepastian dari temannya (masih ada kisah). Tapi saya juga sudah menanyakan keseriusan untuk proses taaruf ini yang tentunya dia juga sudah paham konsekuensinya.

Ya, pantesan saja pihak perempuan membatalkan. Memang harusnya diselesaikan dulu dengan yang masih berjalan. Kalau sudah jelas keputusannya, baru berproses dengan yang lain. Etikanya dalam proses taaruf, tidak seharusnya melakukan multiple ta’aruf. Selesaikan dahulu proses yang lebih awal sampai tuntas dan bila jelas tidak berhasil baru beralih ke proses berikutnya (yang lain).

Kami merasa dibohongi saja. Kalau tahu begitukan mending tidak usah kami bantu. Jelas itu artinya proses yang dibantu jalankan ini hanya sebagai pembanding saja. Atau lebih parah sebagai cadangan. Kalau dengan yang utama gagal, baru dengan yang ini. Kalau berhasil dengan yang utama maka jelas akan meninggalkan proses yang ini. Akhirnya saya ingin katakan saja Jangan minta cariin jodoh kalau belum niat.

Update, teman saya yang laki-laki alhamdulillah sudah menikah. Saya juga tidak tahu apakah dengan pilihan utamanya dulu atau juga nasibnya menerima yang cadangan. Sementara teman kami yang perempuan masih belum mengedarkan undangan. Namun dari kabar selentingan sudah ada jodohnya tinggal nunggu waktu.

GAGAL TA’ARUF, SALAH SIAPA?

Taaruf adalah suatu proses untuk saling mengenal antara laki-laki dan wanita yang dilakukan dalam koridor syar’i dan bertujuan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius (pernikahan). Jadi taaruf bukanlah sebuah penghalus kata bagi mereka yang berpacaran tetapi tidak mau disebut berpacaran, sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh tayangan sinetron yang (katanya) bertema religius.

Taaruf merupakan sebuah proses yang bisa membuat deg-degan sekaligus dapat menimbulkan dilema. Deg-degan ketika siapa yang dita’arufi ternyata sesuai dengan keinginan kita, masuk dalam kriteria kita dan kita berharap-harap cemas apakah diterima atau ditolak. Tapi di sisi lain juga dapat memunculkan dilema ketika kita harus menolak dikarenakan tidak ada rasa sreg sementara si dia mengharapkan kita. Sebagaimana sebuah proses, taaruf tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada saja hal yang membuatnya gagal.

Hasil dari sebuah taaruf setidaknya mencakup empat hal : Continue reading

Kriteria : Metode Seleksi Calon Istri

“ Kapan Nikah Kang? “ tanyaku pada suatu waktu kepada sobat karibku yang sampai saat ini belum juga ‘berani’ melepas masa lajangnya.

“ Insya Allah kalo dah dapat yang cocok… “ jawabnya.

“ Emang nyari yang kayak apa e? “ lanjutku. Mungkin terkesan kepo, tapi dengan sobat karib, masalah seperti ini layak untuk dipertanyakan dan diperbincangkan.

“ Ya gak muluk-muluk kok. Yang penting sholihah… “ jawabnya, kali ini dengan nada koma.

“ Lah yang kemarin-kemarin itu juga dah sholihah to.. kok gak ada satupun yang ditindaklanjuti.. “ tanyaku lebih dalam.

“ Ya selain sholihah juga cantik, pinter.. aku pengennya dapat dokter.. “ lanjutnya.

“ Yeeee kemarin tu juga ditawari mau dikenalkan sama dokter gigi.. tetap masih gak mau… “ sanggahku.

“ Ya aku pengennya dokter umum, bukan dokter gigi… “ sambungnya.

“ Terus pengen yang lokal apa yang interlokal? “ tanyaku lagi. Duh lama-lama jadi kayak biro jodoh. Tanyanya sangat lengkap bin komplit. Padahal tidak ada lagi teman yang masuk kriteria sobat karibku itu, setelah dia bilang wajib seorang dokter umum.

“ Aku pengen yang luar daerah..syukur-syukur luar Jawa. Biar kalau mudik berasa.. hehehe… “ lanjutnya lagi.

Dan akupun terdiam. Setelah tahu kriterianya seperti itu, aku hanya berharap semoga segera dipertemukan. Meski akhirnya setelah dua tahun lebih pembicaraan itu terjadi, sang sobat karibku itu belum juga menemukan belahan jiwanya. Kadang aku berpikir apakah ini yang menyebabkan sebagian kita belum juga menemukan tambatan hatinya. Kriteria. Yup, mungkinkah kriteria yang diterapkan terlalu tinggi untuk diraih?

Continue reading

Jalin Ukhuwah Yuk….

Pernah dengar kata ukhuwah? Pernah dong ya…Seringkali kita dengar saat kita menyimak pengajian atau tausiyah dari ustadz maupun ustadzah. Btw mungkin ada yang belum terlalu ’ngeh’ apa itu ukhuwah. Ukhuwah apaan yach ???
Kata ’ukhuwah’ berasal dari kata kerja ’akha’ yang berarti saudara. Nah pasti sudah ada gambaran dong mau kemana kita bicara. Yup kita akan berbicara tentang saudara atau persaudaraan.
Makna Ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan Aqidah. Kalau kita tambah kata ’Islamiyah’ di belakangnya menjadi Ukhuwah Islamiyah maka maknanya adalah Persaudaraan diantara umat Islam, yang tidak terpecah belah, yang seperti badan sekujur satu sakit yang lain juga merasakan sakit. Gambaran ukhuwah islamiyah juga dijelaskan oleh Rasulullah saw melalui hadits , “Seorang muslim dengan muslim lainnya, bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan satu sama lainnya “. Hebat banget kaan makna ukhuwah itu (ukhuwah islamiyah-red) ?!
Lalu gimana cara ‘membangun’ ukhuwah itu??
Ukhuwah islamiyah yang sanggup menyatukan kita atas dasar Islam tidak terbentuk begitu saja lho. Ada usaha yang harus kita lakukan agar kita benar-benar merasakan indahnya ukhuwah. Ada tahapan-tahapan yang kita lalui sehingga kita bisa dikatakan telah bersaudara sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Belum dikatakan beriman salah seorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri ” (HR. Bukhari).
Tahapan-tahapan Ukhuwah ada lima yaitu:

1. Taaruf (saling mengenal)
Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Jelas dong yaa.. bagaimana mungkin kita akan sayang sesuatu jika kita tak kenal sesuatu itu. Padahal sayang merupakan salah satu tanda bahwa kita bersaudara. Untuk itu tahap yang perlu kita lakukan adalah mengenal. Yang paling mudah adalah dengan kita saling berkenalan. Dengan berkenalan, kita akan merasa lebih akrab dan lebih mudah untuk menyatu dengan saudara kita.

2. Tafahum (saling memahami)
Setelah saling mengenal kita lanjutkan dengan saling memahami. Dengan kita saling memahami maka kita akan tahu lebih lengkap mengenai ’dia’. Kita jadi tahu bagaimana karakternya, bagaimana kesehariannya, bagaimana keluarganya dan masih banyak lagi. Hal ini tentu akan semakin memperkuat ikatan kita dengannya. Dengan tafahum yang baik, kita akan mudah menyatukan hati (ta’alluf), menyatukan pikiran, menyatukan amal, saling menasihati (tanashuh) dan bersama menuju kebaikan.
Anas r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda:
Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (Shahih Muslim No. 64)

3. Ta’awun ( saling menolong )
Setelah kita saling memahami maka akan timbul rasa untuk mau saling menolong karena rasa cinta yang tumbuh antara kita yang dilandasi keimanan pada Allah.
Allah SWT berfirman :
…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maaidah : 2)

4. Takafful (rasa senasib seperjuangan)
Seringnya kita berjumpa dengan saudara kita, bersama berjuang, bersama dalam menghadapi cobaan, semua itu akan menimbulkan rasa senasib sepenanggungan (takafful). Dengan adanya rasa senasib sepenanggungan maka kita akan merasa semakin dekat dengannya. Hal ini akan semakin mudah kita rasakan ketika kita melalui suka dan duka, senang dan susah bersama-sama. Jadi kita bukan teman ketika dia senang saja, tetapi justru mampu menjadi teman di kala dia sedang kesusahan. Begitupun sebaliknya. Dia hadir ketika kita senang dan juga mau hadir ketika kita dalam kesusahan.

5. I-tsar (mendahulukan )
Tahap tertinggi dalam ukhuwah adalah yakni I-tsar (mendahulukan), bukan it-sar ya…. Dimana kita dengan ikhlas mendahulukan kepentingan saudara kita. Kita tak akan ridha sebelum saudara kita mendapatkan hal yang sama layaknya dengan yang kita inginkan. Hal ini telah dicontohkan oleh para shahabat Rasulullah saw. dan juga para kaum muhajirin dan anshar, sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat :
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Nah itulah tahapan-tahapan yang perlu kita lalui dalam kaitannya membangun ukhuwah. Sudah sampai tahap ke-berapakah ukhuwah yang telah kita bangun??

Tahapan -Tahapan Ta’aruf Via BIODATA

Pada postingan terdahulu, yang insya Allah akan saya muat lagi, ada beberapa cara mendapatkan jodoh. Salah satunya melalui biodata. Mungkin masih asing bagi sebagian kita ya… Tapi ternyata itu ada dan sudah banyak yang menjalaninya.. Mudahkah? Tentu tidak juga.Tidak serta merta ada biodata, kita setuju lalu jadi. Ada tahapan-tahapan atau proses yang harus dilalui. Sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya kita coba menggali apa sih enaknya atau kelebihan via BIODATA ini. Tentu saja setiap cara ada kelebihan dan kekurangan. Tapi asalkan semuanya berpangkal pada bahwa mencari jodoh juga berarti mencari keridhoan Alloh maka jika kita ikhlas menjalani semuanya karena Alloh maka akan menjadi lebih ringan.

Ini dia kelebihan via BIODATA:

  1. Belum saling mengenal sehingga keputusan diambil dengan lebih mudah (terutama untuk bilang tidak alias menolak) karena belum tahu satu sama lain.
  2. Kita bisa memilih mana yang menurut kita lebih cocok dan sepadan dengan kita. Bisa milih dari daerah mana, atau latar belakang bagaimana, atau profesi apa dan lain sebagainya. Tapi ingat bahwa terlalu banyak kriteria yang bukan syar’i akan mempersulit diri. Jadi harus berani dan bijak dalam mempertimbangkan.
  3. Kita bisa mengetahui gambaran besar karakter seseorang sehingga kalau nantinya jadi maka sedikit banyak kita telah tahu karakternya. Jadi lebih mudah menyesuaikan.

Ada kelebihan ada pula kelemahannya. Adapun kelemahannya bahwa dalam proses ini dituntut kejujuran masing-masing pihak (ikhwan-akhwat) dalam menuliskan karakter dan kriteria masing-masing. Meskipun nantinya juga akan ketahuan jika ada kepalsuan atau kepura-puraan. Sehingga jika ada yang tidak jujur maka akan menyakiti yang lain dan bisa pula jadi tidak percaya dengan proses semacam ini.

Setelah tahu kelebihan dan kelemahannya maka tinggal kita pilih mana yang sesuai dengan diri kita. Memang tak ada paksaan untuk mencari lewat cara apa yang penting kita tahu aturan masing-masing cara.

Mari kita masuk ke inti bahasan yaitu tahapan-tahapan ta’aruf (perkenalan) via BIODATA:

  1. Menulis biodata mengenai diri sendiri, baik data pribadi maupun gambaran tentang keluarga kita. Jangan khwatir silakan minta blanko ke Murobbi atau Murobbiyahnya masing-masing. Isi dan buat dengan sejujur-jujurnya dan terbuka (terutama abtraksi tentang keluarga dan kepribadian). Insya Alloh kalau sempat ane postingkan juga contoh biodata dan abstraksi.
  2. Setelah itu berikan ke murobbi atau murobbiyah masing-masing. Ingat jangan serahkan ke murobbi/ah orang lain.hehehe.. Karena nanti akan dilampiri rekomendasi dari murobbi/ah-nya. Nah setelah itu kita tinggal menunggu untuk diproses. Jangan menganggap prosesnya bakal cepat begitu mengumpulkan esok harinya langsung dipanggil audisi..hehehe.. Harus sabar menunggu karena biodata yang numpuk juga banyak. Terutama bagi akhwat biasanya lebih lama karena data yang numpuk bisa beberapa kali lipatnya dibanding datanya para ikhwan. Rata-rata antara 1 bulan sampai bertahun-tahun. Untuk itu berdoa saja semoga disegerakan.
  3. Untuk proses selanjutnya akan kita bagi menjadi proses ikhwan dan akhwat. Karena ada beberapa perbedaan untuk selanjutnya bisa menyatu kembali.Proses ikhwan:
    Ikhwan mendapat biodata dari murobbi. Biasanya dalam satu kali bisa dapat antara 1-3 biodata. Silakan baca dan pelajari masing-masing biodata. Setelah itu sholat istikhoroh untuk memutuskannya. Biasanya diberi tenggat waktu antara 1-2 minggu. Dalam kasus khusus ada pula yang sampai 2 bulan.hehehe.. Tapi lebih tepat (antara 1-2 minggu itu) lebih baik. Jangan menahan biodata terlalu lama, takut mendzolimi akhwatnya. Setelah mantap dengan salah satu (ingat!!! mantap dengan salah satu, tidak boleh mantap dengan dua biodata) segera beritahukan murobbi agar segera disampaikan ke pihak akhwatnya (tentu saja melalui murobbiyahnya). Sampai tahap ini jangan senang dulu, karena masih harus menunggu persetujuan akhwat untuk tahap selanjutnya.
    Nb: Kalau tidak sreg dengan biodata-biodata yang diperoleh ya silakan segera pula kembalikan ke murobbi, untuk nanti dicarikan biodata baru lagi.Proses akhwat:
    Setelah ikhwan menyatakan memilih biodata akhwat maka murobbi sang ikhwan akan menghubungi murobbiyah sang akhwat untuk menyampaikan biodata sang ikhwan. Dalam hal ini akhwat hanya memperoleh satu biodata saja. Silakan baca dan pelajari biodatanya. Setelah itu sholat istikhoroh untuk memutuskannya. Biasanya diberi tenggat waktu antara 1-2 minggu. Hampir sama juga dengan ikhwan. Jangan terlalu lama karena ikhwan juga menunggu sambil harap-harap cemas.hehehe… Baik menerima atau menolak untuk proses selanjutnya harap segera hubungi murobbiyahnya. Kalau sudah menyatakan setuju maka siap-siap untuk proses taaruf nyata dengan bertemu. Siapkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin masih mengganjal di hati dan butuh untuk ditanyakan. Karena ada pengalaman beberapa teman yang ketika taaruf bingung apa yang mau ditanyakan. Sementara juga bingung kalau tidak bertanya..Gimana tuh jadinya?
    Nb: kalau menolak biodata berdoalah semoga biodata yang akan datang lebih cocok dan juga tidak terlalu lama.Kembali ke proses ikhwan:
    Setelah menyatakan setuju dan menghubungi murobbiyahnya maka selanjutnya murobbiyah akhwat akan menghubungi murobbi ikhwan yang intinya menyampaikan bahwa sang akhwat setuju untuk lanjut. Begitu juga kalau akhwat tidak menginginkan lanjut, akan disampaikan lewat murobbi ikhwan. Agar lebih terjaga hatinya. Nah makanya tadi dibilang jangan senang dulu karena masih ada dua kemungkinan jawaban diterima atau ditolak. Berdoalah agar yang terbaik yang kita dapat. Kalau ditolak ya mohon ke murobbi untuk segera dicarikan lagi. Kembali mulai tahap 3 ini dari awal.
  4. Setelah ikhwan dan akhwat setuju untuk lanjut maka agendakan kapan bisa taaruf nyata dengan bertemu. Ini harus ada kesepakatan dan juga tidak terlalu lama kecuali ada alasan syar’I yang memaksa untuk menunggu.
  5. Dalam proses pertemuan pertama ini akan didampingi masing-masing murobbi dan murobbiyah. Jangan berpikir ketemuannya cuma berdua saja.hehehe.. Tujuannya adalah lebih mengenal karakter masing-masing dengan lebih dalam dan sekalian nadzor (melihat). Nah caranya bisa dengan pemaparan alias presentasi lalu dilanjutkan tanya jawab (mirip wawancara seleksi hehehe) atau langsung tanya jawab tentang hal-hal yang memang urgen (penting) untuk ditanyakan. Makanya tadi disampaikan tulis pertanyaan-pertanyaan yang harus disampaikan agar tidak menyita waktu dan yang pasti lebih mengena sasaran. Tips: tanyakan hal-hal yang prinsipil saja. Meskipun untuk hal-hal yang tidak prinsipil tetapi jadi pertimbangan penerimaan juga boleh ditanyakan. Semisal rencana tempat tinggal setelah nikah, pekerjaan istri dan lain-lain. Intinya jangan mempersulit diri, tetapi segala ganjalan bisa terungkapkan. Jujur saja dan jangan takut mengungkapkan yang sebenarnya. Dalam proses ini bisa berlangsung cepat, ada pula yang lamaaa sekali. Tergantung banyak tidaknya hal yang harus ditanyakan dan dibahas. Biasanya cukup sekali ketemu, tetapi ada juga yang meminta pertemuan selanjutnya dikarenakan banyak hal yang harus ditanyakan lagi.
  6. Setelah taaruf pertama ini, masing-masing kembali beristikhoroh untuk menentukan apakah yakin atau tidak setelah mendengar jawaban dan pemaparan langsung dari pihak yang diajak taaruf. Dalam memutuskan silakan diskusi dengan orangtua mengenai pihak yang telah mengajak/diajak taaruf. Boleh juga bertanya pada murobbi, tanya pendapatnya dan pertimbangannya. Setelah mantap maka silakan beritahukan kepada murobbi/ah masing-masing mau lanjut atau tidak. Nanti antar murobbi akan berkomunikasi dan menyampaikan hasil/jawaban dari pertemuan pertama. Dalam hal ini sang ikhwan akan ditanya terlebih dahulu oleh murobbinya, mau lanjut atau tidak. Baru setelah itu murobbi sang ikhwan akan menghubungi murobbiyah sang akhwat. Murobbiyah sang akhwat akan menyampaikan jawaban ikhwan kepada sang akhwat. Murobbiyah juga akan mendengarkan jawaban akhwat apakah lanjut atau tidak. Lalu akan dikomunikasikan lagi dengan murobbi sang ikhwan utnuk selanjutnya disampaikan kepada sang ikhwan. Alhamdulillah kalau semua menginginkan lanjut, kalaupun tidak berarti kembali ke proses nomer 3 lagi. Mulai dari awal lagi…
  7. Proses selanjutnya yaitu masing-masing pihak mempresentasikan sang calon (afwan saya bahasakan demikian biar gampang memahaminya) kepada orangtua. Biasanya orangtua akan bertanya mengenai latar belakang sang calon dan berbagai hal lainnya. Silakan jawab apa adanya. Jangan membaik-baikkan atau memburuk-burukkan. Karena ini akan kita pertahankan jangka panjang dan penerimaan orangtua harus dipertimbangkan. Jangan sampai kita menikah tapi orangtua tidak setuju.. gak banget deh..Hasil dari tahap ini juga akan berpengaruh terhadap tahap selanjutnya. Kalau orangtua tidak setuju berarti cukup sampai di sini. Berarti mengalami kegagalan dan harus mulai dari awal lagi.
  8. Setelah semua setuju maka biasanya ada kunjungan dari pihak ikhwan baik didampingi murobbi atau teman kepada orangtua akhwat. Tujuannya mengenalkan diri dan menyampaikan maksud untuk serius dengan putrinya. Di sini pula orangtua akhwat akan bertanya mengenai latar belakang ikhwan. Jawab dengan jujur dan apa adanya. Jangan membaik-baikkan jangan pula memburuk-burukkan. Dari pertemuan ini orangtua akhwat akan menilai ikhwan apakah pantas untuk diterima atau tidak. Makanya bikinlah kesan pertama yang menyenangkan tapi jujur jangan dibuat-buat..hehe..Di sini pula orangtua akan menjawab langsung atau menjawab lewat pemberitahuan selanjutnya. Tapi biasanya orangtua sudah setuju. Tetapi tidak menutup kemungkinan orangtua tidak setuju yang berarti proses dinyatakan gagal.
  9. Setelah orangtua akhwat setuju maka selanjutnya adalah pertemuan antar keluarga. Dalam adat Jawa, orangtua ikhwan berkunjung ke orangtua akhwat untuk memperkuat maksud sang ikhwan. Jika sudah sampai tahap ini maka secara resmi berarti sang akhwat telah dipinang. Meskipun sebenarnya sejak ikhwan datang baik dengan murobbi atau teman ke rumah orangtua akhwat berarti sang akhwat telah dipinang.
  10. Untuk selanjutnya masuk ke proses menuju pernikahan. Ini tergantung adat istiadat masing-masing daerah.

Demikian gambaran besar bagaimana ta’aruf / perkenalan yang didahului dengan biodata. Mungkin terlihat ribet dan sulit tetapi yakinlah kalau sudah menjalani insya Alloh cukup mudah dan sederhana. Yang penting tahu aturan-aturannya.. Yang pasti janganlah menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenal dan tidak jelas asal-usulnya baik secara syar’i maupun secara manusiawi. Makanya fungsi taaruf adalah mengenal calon pasangan hidup. Meskipun awalnya gak kenal tetapi pastikan sebelum menikah sudah kenal.

NB: Yang namanya jodoh itu segala prosesnya insya Alloh mudah. Jadi kalo sudah sulit berarti kemungkinan besar proses akan mengalami kegagalan. Jadi persiapkan hati untuk tidak berharap jika rasa-rasanya prosesnya kok sulit.

rdblt22november2011

Hukum Taaruf Lewat Facebook

Berikut saya repost suatu bahasan yang menarik-menurut saya-. Saya kopikan utuh dari sini . Semoga bermanfaat.

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya kenal wanita via facebook, dari status dan profilnya begitu menarik saya untuk mengenalnya.
Saya pun memberanikan untuk mengenalnya lebih dalam, niat saya ingin menikah, pertanyaan yang saya ajukan ke dia juga seperlunya saja. Hampir sebulan pertanyaan saya baru direspon dan orang tuanya juga setuju tapi kami belum pernah ketemuan sama sekali.
Apakah ini yg namanya ta’aruf dan bagaimana hukumnya ta’aruf lewat facebook. Terima kasih
.

Continue reading

Apa iya Ta’aruf namanya?

Sebenernya tulisan ini sudah lama ingin saya posting. Tapi sejak tragedi lupanya user dan password blog yang satunya, keinginan itupun tertunda. Dan baru kali ini sempat mempostingkan di blog baru saya. Kali ini kita akan membahas tentang Ta’aruf.

Ta’aruf. Siapa sih yang gak tahu apa itu ta’aruf?  Saya kira hampir semua masyarakat kita tahu apa itu maksud ta’aruf. Secara, sekarang kan banyak sinetron yang berlatar dunia pesantren, meskipun jalan cerita dan tata cara kelakuan tokohnya gak beda dengan sinetron pada umumnya. Beda casing doang. Yang perempuan berjilbab, yang laki-laki ber-koko. Tapi karakter tetep sama saja. Lebih banyak menampilkan kejutekan, kejudesan, marah, pertengkaran, cinta-cintaan. Miris jadinya kalau mengingat kenyataan seperti itu. Efek dari sinetron semacam ini adalah mendistorsi keagungan Islam itu sendiri, yang dimungkinkan memang tujuannya seperti itu. Maklumlah paham liberal lebih seksi untuk ditampilkan daripada pemahaman Islam yang baik dan benar.

Kembali ke pembahasan tentang ta’aruf. Apa sih bedanya ta’aruf dan pacaran? Apakah bisa disebut ta’aruf itu pacaran islami? Sebelum kita bicara perbedaannya kita bicara dulu kesamaannya.

Continue reading