S E N J A

Senja. Siapakah gerangan yang meragukan keindahannya? Siapakah dia yang tiada terpikat oleh jingganya? Senja selalu menawarkan eksotisme. Kita, aku dan kau, sepakat bahwa senja adalah momen terindah untuk melepas segala penat. Duduk di tepian sawah, bertatap dengan silau mentari sore, bersenandung gemerisik bulir-bulir padi yang mulai menguning. Dan kita duduk berdua saja di pematang. Tak ada seorangpun kan mengganggu. Kita begitu menghayati peran sebagai pencinta senja. Tak ada suara antara kita. Diam. Ya hanya diam. Masing-masing kita berbisik kepada jingga yang menjulurkan tangannya memeluk hati. Menyatukan bisik cinta di ujung kemilaunya.

Namun senja tak selalu secantik itu. Kala sendiri, senja justru menakutkanku. Senja selalu menjadi momok bagiku. Bagaimana tidak. Senja mulai merayuku. Kau tahu, tangan-tangan jingga yang menjulur itu tak sekedar memeluk hati. Ia ingin mencurinya dariku. Kemilau cahayanya tak sekedar menatapku. Ia ingin menghapus bayang wajahmu di sana. Bisik cinta di ujung kemilaunya tak lagi menyampaikan tutur katamu. Ia membisikkan dari hatinya sendiri. Kau tahu ia pernah bilang mencintaiku.

Maka dari itu aku takut bila harus menikmati senja sendirian. Aku butuh dirimu, setidaknya agar hatiku tak dicuri. Dan sebagai hadiahnya tentu kau tidak keberatan kan bila namamu aku ukir dalam hatiku. Ya hanya sebagai penanda bahwa kau yang telah menyelamatkan hatiku.

senja

gambar diambil dari : https://c2.staticflickr.com/6/5008/5284851005_e1911f9448_b.jpg

Ketika iman naik dan turun

Sudah menjadi keniscayaan bagi kita sebagai manusia biasa bila iman kita naik turun. Kita bukan malaikat yang imannya stabil, tidak naik dan tidak turun. Kita bukan termasuk golongan nabi dan rasul yang imannya senantiasa naik. Pun kita masih jauh dari level para ulama yang imannya memiliki potensi untuk naik lebih besar daripada turunnya. Kita hanyalah manusia biasa yang imannya kadang naik, namun suatu masa akan turun. Yazzidu wa yanqus sudah menjadi sunatullah.

Ketika iman kita naik tak hanya sholat wajib yang kita kerjakan, berbagai sholat sunnahpun kita jalankan dengan ringan tanpa rasa berat sekalipun. Tak hanya banyak namun kualitas sholat kitapun bagus, khusyuk. Doa-doa di penghujung dzikir pun mengalun dengan indahnya, benar-benar berdialog dengan Allah. Namun tatkala iman sedang turun jangankan shalat sunnah, shalat wajib saja keteteran. Mendapati rakaat pertama sudah merupakan sebuah peningkatan yang signifikan. Lebih banyak kita mendapati rakaat-rakaat penghujung sholat. Sudah begitu khusyuk menjadi kondisi langka. Doa-doa pun mengalir sekenanya. Apa yang diminta pun seolah hanya kata tanpa jiwa.

Ketika iman naik, shalat malam menjadi kegiatan nan syahdu, percakapan yang dirindu dan menjadi candu nan nikmat. Namun ketika iman menurun, jangankan bangun sepertiga malam, subuh saja kesiangan. Masih mending bila mendapat rakaat terakhir jamaah di masjid, lebih banyak di rumah. Karena kesiangan pula shalatpun akhirnya secepat kilat seakan takut dikejar siang.

Ketika iman di puncak, tilawah berjuz-juz dalam sehari menjadi amalan yang tak pernah ditinggalkan. Lembar demi lembar dibaca dengan tartil, menggugah jiwa , penyejuk kalbu. Rindu rasanya bila sampai dhuha belum membaca barang selembarpun. Namun ketika iman turun, jangankan berjuz-juz selembar pun seakan berat. Mata ini lebih suka membaca status di media sosial, browsing internet melalui gadget atau membaca koran di kantor. Sampai akhirnya tidak ada waktu untuk sekedar menyentuh Al-Quran.

Ketika iman meninggi, sedekah pun semakin banyak. Seakan tidak pernah menyimpan uang dalam semalam. Begitu hari itu ada, hari itu pula disalurkan. Namun ketika iman melemah, jangankans etiap hari, seminggu sekali saat shalat jumat pun masih pikir-pikir. Begitu sayang dengan uang yang ada di tangan. Terlupa bahwa uang yang disimpan akan dipertanggungjawabkan.

Dan begitulah kondisi kita manusia biasa. Naik dan turunnya iman adalah sebuah keniscayaan. Kitapun tentu akan sekuat usaha kita untuk menjaga agar iman kita dalam kondisi yang baik. Kalaupun mengalami penurunan maka tidaklah sampai terjerembab. Kalaupun sampai iman itu merosot jangan sampai menjerat. Masih ada celah bagi kita untuk bangkit lagi.

Dengan mengingat sebab naik dan turunnya iman berharap agar kita senantiasa bisa menjaga stabilitas iman kita. Stabil dalam kenaikan. Iman akan naik seiring banyaknya ketaatan kepada Allah. Sebaliknya iman akan merosot seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu marilah kita senantiasa berbuat amal dan kebaikan sehingga Allah akan menolong kita dengan meneguhkan hati kita dalam taat kepada-Nya.

Semakin sibuk, semakin banyak membaca Al-Quran (Meraih Keberkahan Waktu)

Dulu semasa kuliah pernah mendapat cerita mengenai seorang mahasiswa Kedokteran UGM yang setiap harinya mampu emmbaca 5 juz dari Al-Quran. Sebuah cerita yang kala itu sangat mengagumkan dan membuat saya terheran-heran. Bagaimana tidak, tentu kita paham bahwa mahasiswa kedokteran memiliki aktifitas yang bejibun, yang mungkin saja lebih sibuk daripada saya yang kuliah di fakultas MIPA tetapi bisa membaca 5 juz dalam sehari. Bandingkan dengan saya waktu itu yang tertatih-tatih hanya demi membaca satu juz dalam sehari sementara aktifitas juga biasa-biasa saja.

Dan kisah-kisah yang membuat saya kagumpun berlanjut sampai sekarang. Seorang anggota dewan (DPRD provinsi) yang membaca setidaknya 3 juz dalam sehari diantara aktivitasnya yang banyak sebagai penyambung aspirasi rakyat. Belum lagi cerita seorang gubernur yang sempat-sempatnya tilawah di dalam pesawat (alih-alih digunakan untuk istirahat) di sela-sela aktivitasnya sebagai pemimpin sekaligus pelayan rakyat. Dan masih banyak kisah lain yang serupa. Belum lagi kisah para sahabat Nabi dan ulama-ulama terdahulu dimana rata-rata mengkhatamkan Al-Quran dalam tiga hari saja. Kisah yang sangat begitu hebat.

Dulu saya merasa heran dan sudah saya katakan tadi bahwa saya begitu kagum dengan mereka yang kalau boleh dibilang semakin sibuk semakin banyak membaca Al-Quran. Dalam pikiran logika saya tentu hal yang tidak mungkin ketika kita banyak tugas tetapi justru waktu-waktu yang kita miliki digunakan untuk kegiatan lain. Pengalaman saya selama ini membuktikan bahwa ketika sibuk sedang mendera maka yang dipikirkan adalah bagaimana tugas segera selesai. Konsekuensinya tidak ada waktu luang selain untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga dalam kesimpulan saya kisah-kisah di atas hanya terjadi pada orang dengan tingkat keimanan yang tinggi dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan hal tersebut.

Tetapi ternyata kesimpulan saya masih belum mendapatkan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Justru kenyataan bahwa orang-orang yang semakin banyak aktivitasnya semakin sering membaca Al-Quran memiliki alasan logis. Sebuah alasan yang bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk lebih sering membaca Al-Quran. Dan alasan logis tersebut adalah keberkahan waktu yang dimiliki, sehingga dengan adanya keberkahan waktu maka setiap tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih baik. Bedakan dengan waktu yang tidak terdapat keberkahan di dalamnya, detik demi detik berlalu begitu cepat namun seiring berlalunya waktu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Banyak waktu terbuang sia-sia. Boleh jadi ia terlihat sangat sibuk tetapi hasil dari kesibukannya tidak terlihat.

Lalu bagaimana mencapai keberkahan waktu tersebut? Waktu bukanlah milik manusia, waktu adalah milik Allah swt. Dan yang dapat memberikan keberkahan kepada waktu tak lain tak bukan hanyalah Allah swt. Maka dari itu barangsiapa yang lebih dekat kepada Allah swt maka semakin besar peluang mendapat keberkahan dalam waktunya. Dan salah satu hal yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah swt adalah dengan membaca Al-Quran. Semakin banyak kita membaca Al-Quran semakin banyak kita mengingat Allah swt, semakin kita dekat kepada-Nya. Maka tak heran bagi mereka yang dekat kepada Allah seakan segala urusan dimudahkan, waktunya sangat efektif dan efisien, setiap kesulitan mendapatkan jalan keluarnya dan ada saja rejeki yang mampir ke tangannya.

Kesimpulannya, semakin banyak tugas dan tanggungjawab kita maka semakin ‘wajib’ bagi kita untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran tidak hanya dilakukan jika memiliki waktu luang saja tetapi justru membaca Al-Quran harus dilakukan kapanpun kita ingin keberkahan waktu. Rumusnya “ Semakin sibuk kita, semakin sering kita membaca Al-Quran. “

 

 

 

Hal-Hal yang Memperlambat Jodoh (bagi laki-laki)

 

Jodoh, ada yang mengatakan adalah rejeki. Sebagaimana rejeki yang akan Allah berikan melalui usaha kita maka demikian juga jodoh perlu diusahakan. Jangan berharap jodoh bila kita saja tidak pernah berusaha menjemputnya. Menjemput jodoh dilakukan tidak hanya melalui usaha lahiriyah tetapi juga mesti diupayakan usaha secara batiniyah. Memperbanyak ibadah, sedekah, puasa sunnah, doa dan memperbaiki kualitas diri merupakan usaha – usaha secara batiniyah. Kemudian usaha-usaha lahiriyah semisal dengan memperbanyak silaturahim, menjalin persahabatan dengan banyak orang dan sebagainya.

Terlepas dari urusan takdir, ada hal-hal yang disadari atau tidak menyebabkan terlambatnya jodoh. Jodoh sebagaimana perlu diluruskan adalah seseorang yang sah menjadi pasangan sejak ijab qabul diucapkan. Sebelum itu tidak bisa disebut sebagai jodoh, meski mungkin telah terjalin kedekatan . Nah beberapa hal yang menyebabkan terlambatnya jodoh antara lain :

  1. Terlalu pemilih

Sebagai manusia wajar bagi kita memilih yang terbaik untuk mendampingi kehidupan kita. Berbagai kriteria-pun sudah dipersiapkan demi menyongsong sang belahan jiwa. Harapannya agar kita benar-benar mendapatkan sesuai apa yang kita inginkan. Kita pun akan melakukan penyeleksian terhadap bakal calon pendamping. Dipilih-pilih siapa yang pas dengan kriteria. Namun terlalu pemilih justru menjadi penghambat datangnya jodoh. Orang yang terlalu pemilih terlalu perfeksionis dalam menilai seseorang. Begitu ada yang tidak sesuai meski sedikit saja maka langsung ditolak. Seperti halnya ketika kita memilih baju di toko, kita tahu yang kita inginkan seperti apa, tetapi di toko yang tersedia tidak seperti yang kita inginkan. Model sih oke, tapi warna kita tidak suka, akhirnya tidak jadi. Lalu mencari lagi, dapat yang warna sesuai keinginan, tetapi modelnya jaman baheula. Sampai menjelang toko-toko tutup, dapat yang diinginkan model cocok, warna suka tetapi ada jahitan yang lepas di salah satu sisi. Akhirnya tidak jadi beli. Ketika kita menghendaki seseorang yang sempurna maka terlalu banyak waktu yang terbuang percuma.

  1. Terlalu Pemalu

Pernah ada seorang tetangga yang ingin mencarikan jodoh buat adik laki-lakinya yang sudah menginjak usia 35-an tahun. Ketika itu saya bertanya mengenai gambaran adiknya tersebut. Waktu itu tetangga saya bilang kalau adiknya seorang yang pemalu. Kalau berhadapan dengan wanita pasti gak berani bicara. Intinya terlalu pemalu. Sifat malu memang sesuatu yang baik jika ditempatkan sesuai kondisinya. Malu untuk berbuat buruk, malu untuk berbuat aniaya, malu untuk melanggar aturan dan semacamnya merupakan sifat malu yang baik. Tetapi terlalu pemalu dalam berinteraksi dengan oranglain justru menjadi kontra produktif. Kenapa harus malu berhadapan dengan orang lain? Asalkan kita tidak bersalah, tidak menyakiti dan tidak berbuat yang buruk mengapa mesti malu. Apalagi jika seorang laki-laki yang dia akan menjadi imam keluarga, menjadi kepala keluarga, yang dipandang oleh masyarakat. Kalau terlalu pemalu, wanita pun akan berpikir berkali-kali untuk memilih laki-laki macam ini. Jadi malu yang berlebihan itu justru akan menghambat datangnya jodoh.

  1. Terlalu Penakut

Terlalu penakut tidak selalu identik dengan pemalu, meski kadang seorang yang pemalu itu juga seorang penakut. Penakut yang dimaksud di sini adalah orang yang takut untuk segera membangun komitmen. Laki-laki sudah tahu kalau wanita itu mau menjadi pendampingnya, si wanita juga sudah menunggu lamaran dari laki-laki tersebut, akan tetapi kiranya si laki-laki tidak punya keberanian untuk segera meminta kepada ayah si wanita. Terlalu banyak bayang-bayang gelap yang menyelimuti pikirannya, jangan-jangan ditolak, jangan-jangan orangtuanya tidak suka, jangan-jangan… Dan akhirnya sampai si wanita dilamar orang lain baru menyesal. Berhari-hari mengurung diri di kamar, menangis di pojok ruang sambil main kelereng. Itulah akibatnya bila terlalu penakut. Laki-laki itu harus kuat. Berani mencintai juga berani menanggung resikonya. Kalau tidak ditolak ya diterima. Kalau ditolak harus dengan legawa menerima. Kalau diterima harus siap untuk segera menikahi. Tidak dengan pacaran dahulu. Yang beraninya meminta pacaran dahulu termasuk golongan penakut dan pengecut.

 

TIPS EXCEL 2007 : Membuat HIGHLIGHT Cell Kosong

Dalam membuat tabel menggunakan excel (sebagai contoh tabel nilai) akan lebih baik bila dibedakan antara cell yang kosong dengan cell yang berisi data. Hal ini akan mempermudah kita dalam memeriksa apakah cell tersebut sudah berisi data atau belum. Semisal dalam contoh tabel nilai , cell-cell yang belum terisi nilai maka akan berwarna kuning. Setelah diisi nilai (angka) maka cell akan berwarna putih. Dengan demikian kita akan tahu jika cell itu masih berwarna kuning berarti belum ada nilainya atau nilai belum masuk.

Nah bagaimana cara membuatnya? Silahkan ikuti langkah-langkah berikut.

  1. Buatlah tabel sesuai kebutuhan.
  2. Blok bagian yang akan diberi warna (highlight)1
  3. Pada Tab HOME pilih Tab CONDITIONAL FORMATTING
  4. Pilih CONDITIONAL FORMATING => New Rule
    2
  5. Muncul NEW FORMATTING RULE => Format only cells that contain
  6. Pada Edit the Rule Description, Format only cells with (yang tadinya Cell Value) dipilih Blanks lalu OK
    3

 

  1. Maka akan muncul seperti gambar berikut. Untuk memilih warna yang akan digunakan klik pada Format sehingga akan muncul tampilan dialog untuk memilih warna.
    5
  2. Lalu Klik OK Maka hasilnya seperti pada gambar di bawah ini.
    64

 

  1. Lalu Klik OK dan selesai.
  2. Hasilnya seperti gambar berikut.7
  1. Lalu coba kita isikan nilai pada bagian UH 1 dan UH 3 maka hasilnya seperti berikut. Tampak bahwa cell yang sudah diisi nilai akan berwarna putih sedangkan yang masih kosong berwarna kuning.
    8

Demikian tips excel kali ini semoga bermanfaat dan Selamat Mencoba.

 

 

 

 

 

Mengkompromikan Kriteria : Antara Idealita dan Realita

Sebelum menikah, wajar bagi kita bila memiliki kriteria-kriteria ideal tentang sang calon pendamping hidup. Kriteria-kriteria yang diharapkan akan membuat kita bahagia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dan juga mengantarkan kita sampai ke surga. Maka tak pelak diantara kita ada yang membuat rincian kriteria yang panjang layaknya daftar belanja bulanan. Untuk kemudian digandakan dan digunakan apabila ada yang datang. Pulpen biru siap memberi tanda centang ketika kriteria yang diinginkan ada padanya. Tapi spidol merah siap menggoreskan tanda silang jika kriteria itu luput darinya. Tinggal di akhir kisah dihitung manakah yang lebih dominan, tinta biru atau blok merah. Belum lagi bagi yang perfeksionis tiada boleh setitik merahpun bercokol di lembar rincian kebahagiaan tersebut.

Tapi setelah menikah, tak cuma setitik merah yang menghiasi lembar rincian kebahagiaan, bahkan mungkin centang biru itupun hendak melarikan diri karena kalah jumlah dengan silang merah yang berbaris teratur dan rapi. Begitu rapatnya sehingga lembaran yang tadinya berwarna putih bersih seakan mendadak berwarna merah darah. Ya, setelah menikah tak jarang kita dihadapkan pada kondisi dimana pasangan kita tak seideal yang kita harapkan. Bahkan konon katanya yang sudah mengenal sejak kecilpun dan merasa sudah tahu menahu secara lebih dalam, setelah menikah, ada saja hal yang ternyata meleset dari harapan. Lalu bagaimana kita mesti menyikapinya?

Ketika kita sudah mengikrarkan janji suci, dalam ketegangan tingkat tinggi di saat ijab qabul lalu disambut suara ‘sah’ maka sejak saat itu jodoh yang selama ini Allah sembunyikan telah ditampakkan kepada kita. Sebelum itu terjadi jodoh masih misteri. Jadi bagi yang pengen segera tahu siapa jodohnya maka tak lain tak bukan dengan bersegera menikah. Dan sejak akad itu pula kita memulai hidup baru bersama makhluk bernama suami / istri.

Nah kembali kepada bagaimana menyikapi perbedaan antara idealita dan realita, maka tak lain dan tak bukan adalah dengan jalan kompromi. Ya, kita perlu mengadakan musyawarah tingkat nasional dengan ego kita. Musyawarah yang harus sesegera mungkin dilakukan begitu menemukan sebuah ketimpangan antara idealita dan realita. Dalam musyawarah ini hal yang perlu dicari titik temu adalah bagaimana melihat realita yang ada untuk kemudian menggali secara lebih dalam hikmah atau kebaikan dibalik itu semua.

Kalau boleh kita jujur, apa sih yang melatarbelakangi munculnya kriteria-kriteria tersebut kalau bukan persepsi dari diri kita pribadi mengenai kebahagiaan di masa depan. Ya, tak lebih dan tak kurang adalah persepsi diri kita. Kalau kita mengingat doa istikharah yang kita panjatkan ketika memohon petunjuk apakah ’si dia’ baik atau tidak bagi kita maka proses kompromi insya Allah akan lebih mudah. Dalam doa istikaharah kita membuat sebuah permohonan ‘Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini ‘ . Jadi apa yang kita dapatkan yaitu pasangan yang sah merupakan yang terbaik menurut ilmu Allah. Tentu kita yakin bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya bukan? Jika sudah demikian tentu persepsi kita tentang pendamping yang ideal harus tunduk dan patuh kepada ilmu Allah yang Maha Luas.

Kecewa? Itu manusiawi. Wajar bila kita merasa kecewa tidak mendapatkan sesuai yang kita inginkan. Ingin istri yang pintar masak, eh dapatnya yang cuma bisa masak mie instan itupun keasinan. Inginnya istri yang senantiasa tampil cantik mempesona di rumah, eh dapatnya yang tampil cantik saat kondangan doang. Itupun bedak sama lipsticknya dah gak karuan. Inginnya suami yang perhatian, eh dapatnya yang super cuek. Inginnya suami yang mau membantu pekerjaan rumah tangga, eh dapatnya yang rajin bantuin pekerjaan tetangga. Inginnya suami yang betah di rumah, eh dapatnya yang suka kelayapan sampai malam. Dan masih banyak contoh lain.

Di sini kembali lagi iman yang seharusnya menjadi juru bicara kita. Kita harus senantiasa menyadari bahwa Allah memberikan yang tepat dan terbaik bagi kita. Kita harus selalu yakin bahwa banyak kebaikan yang ada pada pasangan kita. Mungkin bukan saat ini Allah tunjukkan, tetapi sepanjang perjalanan hidup kita pasti Allah tunjukkan. Mungkin istri tidak pandai memasak, tetapi cekatan dalam mengurus anak, pandai dalam mengatur keuangan keluarga. Mungkin suami tipe orang yang cuek, tetapi dibalik itu ternyata sangat peduli kepada keluarga dan orangtua kita. Akan selalu ada kebaikan dibalik pasangan kita yang mungkin pada awalnya tidak seperti harapan kita.

Kita juga harus ingat bahwa tiada manusia yang sempurna. Dibalik sosok yang tampak anggun mempesona, gagah nan perkasa pasti ada keburukan yang mungkin saat ini belum tampak oleh kita. Namun dibalik sosok pasangan yang apa adanya pasti banyak kebaikan yang ada padanya. Toh kita juga harus adil menilai, bahwa bisa jadi kita lebih tidak ideal bagi pasangan kita dibanding ketidakidealan pasangan di mata kita. Jika sudah menyadari demikian maka marilah kita berkompromi dengan ego kita. Dan juga marilah bersama-sama pasangan membuat kriteria ideal bersama sehingga pada akhirnya istri berusaha menjadi istri idaman suami, demikian juga suami berusaha menjadi suami idaman istri. (maaf jangan disambung dengan kata ‘tetangga’ ya…)

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita tengok. Berapa banyak pasangan yang mendapatkan suami/ istri yang seperti harapan? Coba kita tanya pada orang-orang tua, pada kawan-kawan yang sudah menikah. Yang paling penting adalah jalani hidup berumah tangga dalam rangka menggapai ridha Allah. Insya Allah jika tujuannya adalah ridha Allah maka bagaimanapun pasangan yang Allah amanahkan kepada kita akan senantiasa dijaga dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dan akhirnya kita berharap agar kehidupan rumah tangga kita dapat menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana doa para tamu undangan di walimatul’ursy pernikahan kita.

 

DOA ISTIKHARAH
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.
Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.
Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

 

 

 

Mendewasa Bersamamu

Seringkali saya membaca entah itu status di FB, twit dari teman atau status WhatsApp yang menuliskan kalimat “Menua Bersamamu”. Yang tentu maksudnya adalah memiliki seorang pendamping hidup yang akan selalu bersama sampai tua. Menjalani segala liku hidup bersama dalam suka dan duka.

Namun saya merasa bahwa kalimat “menua bersamamu” belumlah merupakan tujuan atau harapan ideal bagi kita yang mendamba pendamping hidup sejati. Ada harapan yang menurut saya jauh lebih baik yaitu “mendewasa bersamamu”. Ketika kita bicara tentang “menua bersamamu” maka ukurannya adalah usia. Ya, tua adalah bicara tentang banyaknya usia kita. Kita tentu paham bahwa usia adalah sesuatu yang diberikan (given) oleh Allah swt. Setiap kita sudah punya jatah sendiri-sendiri, meski kita tak tahu sampai kapan. Sebagaimana usia yang merupakan sesuatu yang given, tua juga merupakan sesuatu yang pasti (jika Allah berkehendak memanjangkan usia kita). Jika demikian mengapa kita mengharap sesuatu yang sudah pasti kita dapatkan (jika Allah memberikan usia panjang) ?

Tentu kita pernah mendengar kalimat “tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Nah sebenarnya dari sinilah saya menemukan kalimat “mendewasa bersamamu”. Saya memilih kata ‘mendewasa’ karena dengan menikah dan memiliki pendamping hidup maka proses menuju kedewasaan itu semakin baik. Dari pasangan, kita bisa belajar bagaimana menjadi dewasa. Bagimana menyikapi perbedaan diantara kita, bagaimana harus mengalah, bagaimana mengelola suasana hati dan masih banyak lagi. Dan ini tidak kita dapatkan secara gratis, atau dalam bahasa lain tidak given melainkan kita perlu belajar dan senantiasa berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Maka dari itulah ‘mendewasa bersamamu’ memiliki makna bahwa bersama pasangan kita menuju pribadi yang semakin baik.

Dewasa itu berarti kita mampu menahan diri
Dewasa itu berarti kita mampu memahami
Dewasa itu berarti kita memberi empati
Dewasa itu berarti kita peduli

Dewasa itu bukan ‘pokoknya begini’
Dewasa itu bukan ‘kamu tak boleh begini’
Dewasa itu bukan pengekangan
Dewasa itu pilihan