Untukmu, yang sedang memperingati Milad…

Pertama kuucapkan Barakallahu fiik… Tiada lain berharap semoga keberkahan senantiasa Allah limpahkan atasmu dalam setiap urusanmu dalam setiap hembus nafasmu. Salah satu doa yang mencakup segalanya, keberkahan.

Sumringah di wajahmu menandakan hari ini adalah hari yang istimewa bagimu. Entah mungkin hatimu jauh lebih sumringah bercampur was-was, akankah hari ini hanya spesial bagi dirimu sendiri. Dan kini aku yakin was-was itu sudah lenyap bagaikan mendung yang menghujan. Bukankah aku ingat ini hari spesial bagimu? Ah sumringah itu tak perlu kau sembunyikan. Cukup kentara ia menjelma rona merah di kedua pipimu.

Tak hendak sebenarnya aku mengusik bahagiamu. Hanya saja sayang rasanya bila hari spesial ini menjadikanmu bahagia bukan kepalang, hingga mungkin lupa akan hakikat memperingati milad. Aku yakin bahwa dirimu tiada akan melenakan diri larut dalam hingar bingar pesta yang entah sebenarnya merayakan apa. Sekedar traktir makan aku rasa itu hanya memenuhi todongan kawan-kawan. Selebihnya mereka tak peduli lagi apakah hari kelahiranmu itu bermakna atau tidak. Yang mereka tahu bahwa hari lahirmu itu jaminan makan gratis sekali tempo. Miris bukan?

Hari lahir boleh saja menjadikan engkau bahagia namun jauh lebih bermakna bila memperingatinya menjadikan dirimu menyadari hakikat hidup ini. Sejatinya bahagia merayakan hari lahir itu bersanding perenungan yang mesti engkau lakukan. Kebahagiaan akan kesuksesan yang diraih, kebersyukuran atas nikmat yang diperoleh tidak lantas melepas mawas yang harus engkau genggam.

Semakin banyak usia yang telah engkau jalani sejatinya semakin mendekatkan kepada ujung perjalanan ini. Keberhasilanmu menempuh perjalanan sejauh ini memang patut engkau syukuri. Namun sisa perjalanan yang semakin menipis perlu menjadikan dirimu mawas. Apakah yang mesti engkau lakukan di sisa perjalanan ini? Berkacalah pada masa lalu. Tengoklah ke dalam. Jauh… jauh lebih kedalam lagi. Lihatlah apa yang terlihat di sana. Emas, berlian, permata dan segala keindahan lainnya. Atau penuh lumpur, debu, noda dan segala kotoran yang menyertainya. Tentu terkadang engkau perlu memilah dan memilih karena jalan hidup kita berwarna warni. Kemilau keindahan dan kesuraman berkelindan.

Lihatlah kemilau yang memancar dari balik kaca masa lalu. Tidakkah engkau menginginkannya bertabur di sisa perjalananmu? Maka berbuatlah sebaik mungkin, jadilah pribadi yang sesholih mungkin dan biarkan jalan hidupmu bertabur keindahan. Bila masanya tiba, hanya keindahan yang menyertaimu.

Lalu jangan engkau tutup mata terhadap suram. Tataplah sejenak… Tidakkah engkau ingin suram itu tak lagi menjelma di perjalanan selanjutnya? Maka hindarilah sebab musabab suram tersebut. Tahanlah dirimu dari menabur debu, bersabarlah dari godaan menenun mendung. Tetaplah istiqomah dalam kebaikan. Jangan biarkan mendung merenggut kemilau yang hendak engkau pancarkan.

Dan akhirnya teruntuk engkau yang memperingati milad, kebersyukuran atas nikmat usia adalah sebuah budi pekerti yang elok. Namun tiada berarti meninggalkan perenungan, tazkiyatun nafs untuk menjadikanmu insan yang berkualitas.

Yogyakarta, 17 Juni 2015
Malam pertama Ramadhan nan barakah 1436H

Sepenuh cinta,
Dari seseorang yang mencintaimu karena-Nya, insya Allah …

*kupersembahkan teruntuk istriku yang tercinta :)

Berikan Umpan, Baru Engkau Berharap Ikan

“Ini gimana sih teman-teman, kok gak ada yang komentar di page-ku. Padahal sudah aku undang satu-satu lho.. “ curhat teman pagi kemarin.

“ Lha emang kenapa? “

“ Ini tugas kuliah kan harus bikin page atau website tentang proyek yang bisa dikerjakan di instansi. Nah kata pak dosennya penilaian tergantung banyak tidaknya yang memberikan komentar. Nih sudah aku undang tapi belum ada yang komen.. Payah nih teman-teman.. “

“ Hmmm..gitu ya.. Lha sudah berapa page teman-teman yang kamu komentari? “

“ Mmmmm… belum ada sih.. Tapi kan.. masak ya sudah diundang gak mau komentar… “ jawabnya sambil garuk-garuk kepala. Mungkin baru nyadar, tapi tetep saja defensif. O alah manusia…

“ Ya sudah sana komentar dulu.. ntar tunggu saja.. gak lama teman-teman akan komentar.. semakin banyak kamu komentar page teman-teman, semakin banyak pula yang akan komentar di page-mu..”

================================================================================

Sepenggal obrolan di atas memberi pelajaran kepada  kita, betapa kadang kita berharap orang lain berbuat seperti apa yang kita inginkan. Tetapi kita sering lupa untuk memberikan terlebih dahulu apa yang disukai orang lain. Contoh, kita senang kalau berpapasan dengan orang lain, dia (orang lain) memberikan senyum kepada kita. Tapi terkadang kita lupa (atau mungkin gengsi) untuk memulai senyum kepadanya. Ego kita masih menganggap siapa yang memulai itu derajatnya satu tingkat dibawah yang menanggapi. Seakan kita adalah orang yang lebih mulia, yang mana orang lainlah yang harus selalu mendahului menghormati kita.

Belajar dari filosofi MANCING, Berikan umpan baru engkau berharap ikan, maka sebenarnya untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain maka kitapun perlu rela memberikan terlebih dahulu sesuatu yang disukai orang lain. Contoh, agar teman-teman komentar di page kita, maka berikan komentar terlebih dahulu di page teman-teman. Atau kalau ingin setiap orang ramah dan murah senyum kepada kita, maka kitapun tak perlu sungkan untuk memberikan senyum terbaik kita terlebih dahulu. Iya sih, tapi kalau tidak dibalas kan malu juga…Hmmm emang iya.. hehe.. Tapi setidaknya kita sudah berusaha untuk mendahului berbuat baik. Bukankah bertemu saudara dengan wajah berseri-seri berhias senyum adalah sedekah? Lalu kalau tidak ditanggapi yaa sudah anggap saja sedekah. Kita sudah dapat pahala.. Kan? Tidak mungkin kan kita bilang ke ikan, “wahai ikan nih aku punya umpan enak lho.. mari sini nyangkut di pancingku..”. Kalau begitu, pancing orang lain dengan memberikan umpan terbaik kita. Kalau ternyata tidak dapat ikan ya sudah kita niatkan sedekah memberi makan ikan. Mungkin ikannya lagi gak minat atau mungkin kita mancingnya di kolam yang gak ada ikannya. So, simple..

Untuk itu marilah kita kikis sifat egosentris kita. Jangan melulu fokus kepada diri kita, jangan selalu berharap orang lain yang seharusnya mendahului memperlakukan kita dengan baik. Pancinglah orang lain sehingga mau tidak mau membalas umpan yang kita berikan. Contoh, memberikan salam itu sunnah tetapi menjawab salam itu wajib (wajib kifayah, tapi kalau cuma sendirian kan jadinya wajib ‘ain, terkecuali kalau yang memberi salam itu kita ketahui bukan saudara seiman yang mana tidak perlu dijawab atau kalau dijawab tidak lebih dari wa’alaika). Jadi mendahului berbuat baik itu baik, membalas kebaikan dengan kebaikan itu wajib. Tapi kebaikan yang tidak berbalas bukan suatu aib, dan kita tidak perlu minder karena Allah SWT senantiasa mengetahui niat dan kebaikan hamba-hambaNya.

 

 

S E N J A

Senja. Siapakah gerangan yang meragukan keindahannya? Siapakah dia yang tiada terpikat oleh jingganya? Senja selalu menawarkan eksotisme. Kita, aku dan kau, sepakat bahwa senja adalah momen terindah untuk melepas segala penat. Duduk di tepian sawah, bertatap dengan silau mentari sore, bersenandung gemerisik bulir-bulir padi yang mulai menguning. Dan kita duduk berdua saja di pematang. Tak ada seorangpun kan mengganggu. Kita begitu menghayati peran sebagai pencinta senja. Tak ada suara antara kita. Diam. Ya hanya diam. Masing-masing kita berbisik kepada jingga yang menjulurkan tangannya memeluk hati. Menyatukan bisik cinta di ujung kemilaunya.

Namun senja tak selalu secantik itu. Kala sendiri, senja justru menakutkanku. Senja selalu menjadi momok bagiku. Bagaimana tidak. Senja mulai merayuku. Kau tahu, tangan-tangan jingga yang menjulur itu tak sekedar memeluk hati. Ia ingin mencurinya dariku. Kemilau cahayanya tak sekedar menatapku. Ia ingin menghapus bayang wajahmu di sana. Bisik cinta di ujung kemilaunya tak lagi menyampaikan tutur katamu. Ia membisikkan dari hatinya sendiri. Kau tahu ia pernah bilang mencintaiku.

Maka dari itu aku takut bila harus menikmati senja sendirian. Aku butuh dirimu, setidaknya agar hatiku tak dicuri. Dan sebagai hadiahnya tentu kau tidak keberatan kan bila namamu aku ukir dalam hatiku. Ya hanya sebagai penanda bahwa kau yang telah menyelamatkan hatiku.

senja

gambar diambil dari : https://c2.staticflickr.com/6/5008/5284851005_e1911f9448_b.jpg

Ketika iman naik dan turun

Sudah menjadi keniscayaan bagi kita sebagai manusia biasa bila iman kita naik turun. Kita bukan malaikat yang imannya stabil, tidak naik dan tidak turun. Kita bukan termasuk golongan nabi dan rasul yang imannya senantiasa naik. Pun kita masih jauh dari level para ulama yang imannya memiliki potensi untuk naik lebih besar daripada turunnya. Kita hanyalah manusia biasa yang imannya kadang naik, namun suatu masa akan turun. Yazzidu wa yanqus sudah menjadi sunatullah.

Ketika iman kita naik tak hanya sholat wajib yang kita kerjakan, berbagai sholat sunnahpun kita jalankan dengan ringan tanpa rasa berat sekalipun. Tak hanya banyak namun kualitas sholat kitapun bagus, khusyuk. Doa-doa di penghujung dzikir pun mengalun dengan indahnya, benar-benar berdialog dengan Allah. Namun tatkala iman sedang turun jangankan shalat sunnah, shalat wajib saja keteteran. Mendapati rakaat pertama sudah merupakan sebuah peningkatan yang signifikan. Lebih banyak kita mendapati rakaat-rakaat penghujung sholat. Sudah begitu khusyuk menjadi kondisi langka. Doa-doa pun mengalir sekenanya. Apa yang diminta pun seolah hanya kata tanpa jiwa.

Ketika iman naik, shalat malam menjadi kegiatan nan syahdu, percakapan yang dirindu dan menjadi candu nan nikmat. Namun ketika iman menurun, jangankan bangun sepertiga malam, subuh saja kesiangan. Masih mending bila mendapat rakaat terakhir jamaah di masjid, lebih banyak di rumah. Karena kesiangan pula shalatpun akhirnya secepat kilat seakan takut dikejar siang.

Ketika iman di puncak, tilawah berjuz-juz dalam sehari menjadi amalan yang tak pernah ditinggalkan. Lembar demi lembar dibaca dengan tartil, menggugah jiwa , penyejuk kalbu. Rindu rasanya bila sampai dhuha belum membaca barang selembarpun. Namun ketika iman turun, jangankan berjuz-juz selembar pun seakan berat. Mata ini lebih suka membaca status di media sosial, browsing internet melalui gadget atau membaca koran di kantor. Sampai akhirnya tidak ada waktu untuk sekedar menyentuh Al-Quran.

Ketika iman meninggi, sedekah pun semakin banyak. Seakan tidak pernah menyimpan uang dalam semalam. Begitu hari itu ada, hari itu pula disalurkan. Namun ketika iman melemah, jangankans etiap hari, seminggu sekali saat shalat jumat pun masih pikir-pikir. Begitu sayang dengan uang yang ada di tangan. Terlupa bahwa uang yang disimpan akan dipertanggungjawabkan.

Dan begitulah kondisi kita manusia biasa. Naik dan turunnya iman adalah sebuah keniscayaan. Kitapun tentu akan sekuat usaha kita untuk menjaga agar iman kita dalam kondisi yang baik. Kalaupun mengalami penurunan maka tidaklah sampai terjerembab. Kalaupun sampai iman itu merosot jangan sampai menjerat. Masih ada celah bagi kita untuk bangkit lagi.

Dengan mengingat sebab naik dan turunnya iman berharap agar kita senantiasa bisa menjaga stabilitas iman kita. Stabil dalam kenaikan. Iman akan naik seiring banyaknya ketaatan kepada Allah. Sebaliknya iman akan merosot seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan. Oleh karena itu marilah kita senantiasa berbuat amal dan kebaikan sehingga Allah akan menolong kita dengan meneguhkan hati kita dalam taat kepada-Nya.

Semakin sibuk, semakin banyak membaca Al-Quran (Meraih Keberkahan Waktu)

Dulu semasa kuliah pernah mendapat cerita mengenai seorang mahasiswa Kedokteran UGM yang setiap harinya mampu emmbaca 5 juz dari Al-Quran. Sebuah cerita yang kala itu sangat mengagumkan dan membuat saya terheran-heran. Bagaimana tidak, tentu kita paham bahwa mahasiswa kedokteran memiliki aktifitas yang bejibun, yang mungkin saja lebih sibuk daripada saya yang kuliah di fakultas MIPA tetapi bisa membaca 5 juz dalam sehari. Bandingkan dengan saya waktu itu yang tertatih-tatih hanya demi membaca satu juz dalam sehari sementara aktifitas juga biasa-biasa saja.

Dan kisah-kisah yang membuat saya kagumpun berlanjut sampai sekarang. Seorang anggota dewan (DPRD provinsi) yang membaca setidaknya 3 juz dalam sehari diantara aktivitasnya yang banyak sebagai penyambung aspirasi rakyat. Belum lagi cerita seorang gubernur yang sempat-sempatnya tilawah di dalam pesawat (alih-alih digunakan untuk istirahat) di sela-sela aktivitasnya sebagai pemimpin sekaligus pelayan rakyat. Dan masih banyak kisah lain yang serupa. Belum lagi kisah para sahabat Nabi dan ulama-ulama terdahulu dimana rata-rata mengkhatamkan Al-Quran dalam tiga hari saja. Kisah yang sangat begitu hebat.

Dulu saya merasa heran dan sudah saya katakan tadi bahwa saya begitu kagum dengan mereka yang kalau boleh dibilang semakin sibuk semakin banyak membaca Al-Quran. Dalam pikiran logika saya tentu hal yang tidak mungkin ketika kita banyak tugas tetapi justru waktu-waktu yang kita miliki digunakan untuk kegiatan lain. Pengalaman saya selama ini membuktikan bahwa ketika sibuk sedang mendera maka yang dipikirkan adalah bagaimana tugas segera selesai. Konsekuensinya tidak ada waktu luang selain untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehingga dalam kesimpulan saya kisah-kisah di atas hanya terjadi pada orang dengan tingkat keimanan yang tinggi dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan hal tersebut.

Tetapi ternyata kesimpulan saya masih belum mendapatkan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Justru kenyataan bahwa orang-orang yang semakin banyak aktivitasnya semakin sering membaca Al-Quran memiliki alasan logis. Sebuah alasan yang bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk lebih sering membaca Al-Quran. Dan alasan logis tersebut adalah keberkahan waktu yang dimiliki, sehingga dengan adanya keberkahan waktu maka setiap tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih baik. Bedakan dengan waktu yang tidak terdapat keberkahan di dalamnya, detik demi detik berlalu begitu cepat namun seiring berlalunya waktu tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Banyak waktu terbuang sia-sia. Boleh jadi ia terlihat sangat sibuk tetapi hasil dari kesibukannya tidak terlihat.

Lalu bagaimana mencapai keberkahan waktu tersebut? Waktu bukanlah milik manusia, waktu adalah milik Allah swt. Dan yang dapat memberikan keberkahan kepada waktu tak lain tak bukan hanyalah Allah swt. Maka dari itu barangsiapa yang lebih dekat kepada Allah swt maka semakin besar peluang mendapat keberkahan dalam waktunya. Dan salah satu hal yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah swt adalah dengan membaca Al-Quran. Semakin banyak kita membaca Al-Quran semakin banyak kita mengingat Allah swt, semakin kita dekat kepada-Nya. Maka tak heran bagi mereka yang dekat kepada Allah seakan segala urusan dimudahkan, waktunya sangat efektif dan efisien, setiap kesulitan mendapatkan jalan keluarnya dan ada saja rejeki yang mampir ke tangannya.

Kesimpulannya, semakin banyak tugas dan tanggungjawab kita maka semakin ‘wajib’ bagi kita untuk memperbanyak membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran tidak hanya dilakukan jika memiliki waktu luang saja tetapi justru membaca Al-Quran harus dilakukan kapanpun kita ingin keberkahan waktu. Rumusnya “ Semakin sibuk kita, semakin sering kita membaca Al-Quran. “

 

 

 

Hal-Hal yang Memperlambat Jodoh (bagi laki-laki)

 

Jodoh, ada yang mengatakan adalah rejeki. Sebagaimana rejeki yang akan Allah berikan melalui usaha kita maka demikian juga jodoh perlu diusahakan. Jangan berharap jodoh bila kita saja tidak pernah berusaha menjemputnya. Menjemput jodoh dilakukan tidak hanya melalui usaha lahiriyah tetapi juga mesti diupayakan usaha secara batiniyah. Memperbanyak ibadah, sedekah, puasa sunnah, doa dan memperbaiki kualitas diri merupakan usaha – usaha secara batiniyah. Kemudian usaha-usaha lahiriyah semisal dengan memperbanyak silaturahim, menjalin persahabatan dengan banyak orang dan sebagainya.

Terlepas dari urusan takdir, ada hal-hal yang disadari atau tidak menyebabkan terlambatnya jodoh. Jodoh sebagaimana perlu diluruskan adalah seseorang yang sah menjadi pasangan sejak ijab qabul diucapkan. Sebelum itu tidak bisa disebut sebagai jodoh, meski mungkin telah terjalin kedekatan . Nah beberapa hal yang menyebabkan terlambatnya jodoh antara lain :

  1. Terlalu pemilih

Sebagai manusia wajar bagi kita memilih yang terbaik untuk mendampingi kehidupan kita. Berbagai kriteria-pun sudah dipersiapkan demi menyongsong sang belahan jiwa. Harapannya agar kita benar-benar mendapatkan sesuai apa yang kita inginkan. Kita pun akan melakukan penyeleksian terhadap bakal calon pendamping. Dipilih-pilih siapa yang pas dengan kriteria. Namun terlalu pemilih justru menjadi penghambat datangnya jodoh. Orang yang terlalu pemilih terlalu perfeksionis dalam menilai seseorang. Begitu ada yang tidak sesuai meski sedikit saja maka langsung ditolak. Seperti halnya ketika kita memilih baju di toko, kita tahu yang kita inginkan seperti apa, tetapi di toko yang tersedia tidak seperti yang kita inginkan. Model sih oke, tapi warna kita tidak suka, akhirnya tidak jadi. Lalu mencari lagi, dapat yang warna sesuai keinginan, tetapi modelnya jaman baheula. Sampai menjelang toko-toko tutup, dapat yang diinginkan model cocok, warna suka tetapi ada jahitan yang lepas di salah satu sisi. Akhirnya tidak jadi beli. Ketika kita menghendaki seseorang yang sempurna maka terlalu banyak waktu yang terbuang percuma.

  1. Terlalu Pemalu

Pernah ada seorang tetangga yang ingin mencarikan jodoh buat adik laki-lakinya yang sudah menginjak usia 35-an tahun. Ketika itu saya bertanya mengenai gambaran adiknya tersebut. Waktu itu tetangga saya bilang kalau adiknya seorang yang pemalu. Kalau berhadapan dengan wanita pasti gak berani bicara. Intinya terlalu pemalu. Sifat malu memang sesuatu yang baik jika ditempatkan sesuai kondisinya. Malu untuk berbuat buruk, malu untuk berbuat aniaya, malu untuk melanggar aturan dan semacamnya merupakan sifat malu yang baik. Tetapi terlalu pemalu dalam berinteraksi dengan oranglain justru menjadi kontra produktif. Kenapa harus malu berhadapan dengan orang lain? Asalkan kita tidak bersalah, tidak menyakiti dan tidak berbuat yang buruk mengapa mesti malu. Apalagi jika seorang laki-laki yang dia akan menjadi imam keluarga, menjadi kepala keluarga, yang dipandang oleh masyarakat. Kalau terlalu pemalu, wanita pun akan berpikir berkali-kali untuk memilih laki-laki macam ini. Jadi malu yang berlebihan itu justru akan menghambat datangnya jodoh.

  1. Terlalu Penakut

Terlalu penakut tidak selalu identik dengan pemalu, meski kadang seorang yang pemalu itu juga seorang penakut. Penakut yang dimaksud di sini adalah orang yang takut untuk segera membangun komitmen. Laki-laki sudah tahu kalau wanita itu mau menjadi pendampingnya, si wanita juga sudah menunggu lamaran dari laki-laki tersebut, akan tetapi kiranya si laki-laki tidak punya keberanian untuk segera meminta kepada ayah si wanita. Terlalu banyak bayang-bayang gelap yang menyelimuti pikirannya, jangan-jangan ditolak, jangan-jangan orangtuanya tidak suka, jangan-jangan… Dan akhirnya sampai si wanita dilamar orang lain baru menyesal. Berhari-hari mengurung diri di kamar, menangis di pojok ruang sambil main kelereng. Itulah akibatnya bila terlalu penakut. Laki-laki itu harus kuat. Berani mencintai juga berani menanggung resikonya. Kalau tidak ditolak ya diterima. Kalau ditolak harus dengan legawa menerima. Kalau diterima harus siap untuk segera menikahi. Tidak dengan pacaran dahulu. Yang beraninya meminta pacaran dahulu termasuk golongan penakut dan pengecut.

 

TIPS EXCEL 2007 : Membuat HIGHLIGHT Cell Kosong

Dalam membuat tabel menggunakan excel (sebagai contoh tabel nilai) akan lebih baik bila dibedakan antara cell yang kosong dengan cell yang berisi data. Hal ini akan mempermudah kita dalam memeriksa apakah cell tersebut sudah berisi data atau belum. Semisal dalam contoh tabel nilai , cell-cell yang belum terisi nilai maka akan berwarna kuning. Setelah diisi nilai (angka) maka cell akan berwarna putih. Dengan demikian kita akan tahu jika cell itu masih berwarna kuning berarti belum ada nilainya atau nilai belum masuk.

Nah bagaimana cara membuatnya? Silahkan ikuti langkah-langkah berikut.

  1. Buatlah tabel sesuai kebutuhan.
  2. Blok bagian yang akan diberi warna (highlight)1
  3. Pada Tab HOME pilih Tab CONDITIONAL FORMATTING
  4. Pilih CONDITIONAL FORMATING => New Rule
    2
  5. Muncul NEW FORMATTING RULE => Format only cells that contain
  6. Pada Edit the Rule Description, Format only cells with (yang tadinya Cell Value) dipilih Blanks lalu OK
    3

 

  1. Maka akan muncul seperti gambar berikut. Untuk memilih warna yang akan digunakan klik pada Format sehingga akan muncul tampilan dialog untuk memilih warna.
    5
  2. Lalu Klik OK Maka hasilnya seperti pada gambar di bawah ini.
    64

 

  1. Lalu Klik OK dan selesai.
  2. Hasilnya seperti gambar berikut.7
  1. Lalu coba kita isikan nilai pada bagian UH 1 dan UH 3 maka hasilnya seperti berikut. Tampak bahwa cell yang sudah diisi nilai akan berwarna putih sedangkan yang masih kosong berwarna kuning.
    8

Demikian tips excel kali ini semoga bermanfaat dan Selamat Mencoba.