Aku Tak Lebih Baik dari Siapapun

“Kalo begini kamu tak lebih baik dari si itu…”

“Aku yang lulusan D3 aja lebih bisa mikir daripada kamu yang lulusan lebih tinggi..”

Pernah ada yang bilang begitu kepada saya. Ya gak saklek begitu kalimatnya tapi intinya begitu. Lantas bagaimana menghadapi hal itu? Dalam hal konten isi bahwa ada yang lebih baik dari saya, itu tidak jadi masalah. Tapi dalam hal diperbandingkan jelas siapapun pasti tidak mau, apalagi seorang laki-laki dimana memiliki ego keakuan yang besar.

Di sini kita kesampingkan dulu tentang hal diperbandingkan tersebut. Fokus kepada bahwa saya tidak lebih baik dari siapapun. Ya, untuk hal ini saya memang tidak lebih baik dari siapapun. Bahkan saking ekstrimnya, kalau ada yang bilang saya lebih buruk dari pabu* maka itupun saya terima. Setidaknya agar hati ini tidak merasa sombong. Dan saya pun memang dari dulu berusaha menghindari untuk meremehkan siapapun, apapun pekerjaannya, apapun pendidikannya, apapun latar belakangnya. Hal ini tak lepas juga dari saya yang tidak suka dinilai dengan melibatkan embel-embel, entah status sosial, pendidikan atau apalah itu. Sebagai contoh, saya tidak suka dengan kalimat semisal “kamu itu sudah kuliah S1 masak kalah sama dia yang D3”. Tapi saya akan menerima jika dikatakan kepada saya “Kamu bisa lho lebih baik dari ini.. Pekerjaanmu ini masih belum memenuhi kualifikasi yang diharapkan”

Saya memang berusaha menghindari untuk marah ketika dibilang buruk oleh oranglain (lain soal dengan dibanding-bandingkan). Bahkan untuk suatu pekerjaan yang dinilai tak jelas pun saya terima. Saya tahu bahwa keburukan yang saya miliki masih jauh lebih banyak dari yang orang lain tahu yang kemudian dikatakan itu. Justru bersyukur bahwa masih banyak aib yang Allah tutupi sehingga orang lain tidak tahu semuanya.

Memang ya tidak cukup sampai di situ. Gak belajar namanya kalau cuma nrimo begitu. Ketika dibilang gak baik oleh orang lain tentu saja harus instrospeksi. Dan dalam hal ini saya sangat menghargai jika orang yang melontarkan cacian itu memberikan penjelasan kepada saya. Maksudnya bagaimana dengan perkataannya itu, kemudian bagaimana seharusnya saya perbuat untuk memperbaikinya. Ya saya memang berusaha untuk menyikapi kritik biar seenak kripik. Karena saya merasa tak sempurna maka dengan kritik itu harapannya bisa membuat saya selangkah lebih baik.

Well, mungkin ini sedikit curhat tapi saya rasa poin-poin pentingnya bisa diambil diantaranya bahwa Dianggap tak lebih baik dari siapapun itu bukan musibah. Justru harus disadari dan diterima dengan legowo. Kemudian berusaha menjadikan cacian, cemoohan itu sebagai cambuk untuk menjadi lebih baik lagi. Itu…

Siapa Shofmate-mu?

Siapa shofmate-mu? krik krik krik…

Shofmate apaan sih? Haaaa.. istilah ini tiba-tiba muncul di benak saya sesaat hendak sholat subuh tadi. Entah benar atau tidak perpaduan katanya, tapi ya biarlah. Jadi gini ceritanya. Entah bagaimana caranya (yang pasti takdir Allah yang berperan) hampir setiap sholat di masjid depan rumah, sering banget bersebelehan dengan seseorang yang sama. Bahkan entah saya yang masbuq atau dianya yang terlambat. Pokoknya jejeran gitu. Ya seru aja, kenal akrab enggak, soulmate bukan tapi jadi shofmate.

Setidaknya sudah dua orang yang jadi shofmate saya. Yang satu simbah-simbah yang qadarullah berpulang beberapa minggu yang lalu. Sungguh meski tidak kenal (serius gak kenal, cuma tahu nama saja) tapi sudah merasa kehilangan sejak beliau sakit. Bagaimana tidak, seseorang yang hampir selalu ada di samping kita tiba-tiba menghilang. Dan akhirnya Allah yang memanggilnya terlebih dahulu. Selamat jalan mbah… Semoga panjenengan dijejerke sama¬†amal-amal sholeh yang menjelma jadi teman yang rupawan di kubur. Hiks… sendu…

Shofmate yang kedua bapak-bapak yang qadarullah oleh Allah diuji dengan pernah stroke sehingga geraknya sedikit terbatas. Kenalkah aku? Ya tidak akrab, cuma tahu nama. Semoga beliau senantiasa diberi kekuatan untuk selalu berjamaah di masjid itu. Meskipun untuk saat ini justru saya yang jarang berjamaah di masjid itu, seringnya hanya subuh dan ashar. Ya gimana lagi, dhuhur jelas di kantor kalo pas gak dinas luar (diperhalus) ūüėÄ . Maghrib dan Isya’ di masjid lain dekat apotek Turi Sehat. Ya karena kondisi memang harus begitu. Toh bagi saya yang penting adalah bagaimana menjaga biar selalu bisa berjamaah di masjid, meski kadang tertatih.

Jadi begitu kira-kira makna shofmate.. Maaf kalau penjelasannya justru tidak menjelaskan apa itu shofmate. Tapi yang pasti siapapun shofmate-mu, lakukan sholat dengan sepenuh hati, khusyu’. Mudah? Jelas tidak. Tapi setidaknya kita sadari, kita posisikan diri jangan-jangan itu sholat terakhir kita.

 

Jangan…

Jangan pernah
bermain hati
Jangan pernah
bermain api

Hati itu rapuh
saat lembut itu menyentuh
Tapi hati bisa membata
bila ia dibuat luka

Jangan pernah
memantik percik
Jika tak siap
dengan ricik

Hati ibarat kerontang
setitik percik dapat membakar
Bila ia sudah mengabu
tiada guna segayung banyu

Jangan pernah
menumbuh rasa
Jika tak siap
menjaga segenap jiwa

 

@sudut BLK
langit mendung, tanpa senyuman

Ketika Aku Memilih Mundur

Rabu, 18 Januari 2017 menjadi sebuah penanda peristiwa yang mungkin aku akan lupa harinya dan tanggalnya namun tidak akan lupa momennya. Setelah menimbang, berpikir sejak akhir tahun 2016, akhirnya tepat tanggal itu berani mengambil keputusan yang ‘aneh’?

Resmi mulai tanggal tersebut saya mengembalikan amanah sebagai khotib di masjid depan rumah. Dan alhamdulillah disetujui oleh ketua takmir dengan catatan hanya sepanjang tahun¬†2017. Lega…

Kenapa pada akhirnya saya memilih mundur? Sebenarnya gak penting banget untuk diketahui khalayak ramai, sama gak pentingnya isi tulisan ini.. Hehehe.. Tapi mungkin esensinya bisa menjadi sebuah pembelajaran.

Sejak 2015 saya secara resmi dimasukkan dalam jadwal khotib dengan jadwal khusus Jumat Kliwon. Tentu saja saya tidak sendirian, ada tandemnya. Sehingga ya setidaknya setiap 2 lapan sekali saya bertugas sebagai khotib. Dan tercatat saya yang termuda diantara yang dijadwal tersebut. Yang lain lebih dari 10 tahun diatas saya. Bangga? Tidak juga. Kok ditulis? Biarin aja. Biar nyambung sama kelanjutan tulisan ini.

Menjadi yang termuda tidak selalu enak.. Jelas karena bagaimanapun yang enak-enak jatah yang tua-tua. Apaan sih? Kalau pas khotib terjadwal berhalangan hadir pastilah yang termuda sebagai sasarannya. Siapa lagi kalau  bukan saya, meski sempat juga menolak dan berhasil.

Terjadwal demikian menjadikan saya dalam posisi tidak nyaman. Semacam ada beban. Sebuah keharusan. Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya mundur. Yakin? Enggak. Tapi lebih kepada tidak ada kesempatan bagi kawan sebaya saya untuk memunculkan potensinya sebagai khotib, penerus masa mendatang. Saya sendiri selalu sadar bahwa saya pendatang di lignkungan ini. Jelas mengkader saya tidak banyak memberi manfaat di kemudian hari. Maka mau tak mau harus ada sebuah situasi dimana terjadi kekosongan sehingga bisa menjadi tempat bagi yang lain untuk masuk.

Kita tentu mafhum bahwa proses regenerasi kadermasjid di pelosok tidak bisa seideal di kota-kota atau yang pemikirannya sudah maju. Biasanya kalau sudah itu ya ituuuu terus. Sampai akhirnya maut yang memisahkan. Setelah itu kelabakan nyari gantinya. Oleh karena itu memang harus ada yang dikorbankan agar regenerasi bisa berjalan dengan baik. Kader-kader yang disiapkan tidak cuma sebiji doang, tetapi berbiji-biji.

Dan terbukti dengan pernah ogahnya saya ( ditambah kata-kata manis penuh logika yang saya sampaikan ke yang minta ganti) akhirnya ada satu kawan saya yang diberanikan tampil. Dan kemarin ada satu lagi yang berani tampil. Saya senyumin saja. Tujuan saya berhasil. Kelowongan posisi saya sudah ada yang ngisi. Gak menyesal? Enggaklah… asal bukan posisi di hatinya aja yang tergantikan..ups..

Dan setiap segala sesuatu keputusan yang kita ambil akan membawa konsekuensi masing-masing. Berpikirlah dengan baik, pertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan. Hindari mengambil keputusan dalam kondisi emosi yang tidak baik semisal marah, ngambek, sebel dan lain sebagainya.

 

*1 lapan= 35 hari, penanda hitungan Jawa. Jarak antara hari dan pasaran yang sama adalah 35 hari. Misal jumat kliwon – jumat kliwon = 35 hari atau sabtu wage – sabtu wage = 35 hari.

Tamparan Hati

Jumat, 13 Januari 2017. Tepat sepuluh hari sejak tanggal 03 (sebuah tanggal yang spesial di setiap bulannya bagi saya) Januari. Rehat sejenak selepas kerja bakti di kantor. Haus yang sangat memaksaku membeli Evita 3 botol. Kebetulan ada dua rekan kerja bakti  lagi yang satu grup denganku.

Sambil duduk berselonjor kaki, kusodorkan sebotol kepada seorang rekan yang tak lama lagi pensiun.

Wah nembe poso e mas” (wah lagi puasa mas-terj.) jawabnya.

Poso nopo pak?” (puasa apa pak?-terj.) tanyaku.

Poso ndawud mas” (puasa daud mas-terj.) jawabnya.

Deg. Puasa daud? Puasa sunnah yang paling utama. Puasa selang seling, sehari puasa, sehari tidak . Terkejut. Sungguh terkejut, beneran.

Mpun dangu pak?” (sudah lama pak?-terj.) tanyaku.

Yo wis ket 2014 mas.. dadi entheng awakke.. mundhak semangat le sholat bengi, ora keri le sholat wajib neng mesjid.. jam setengah telu ki mesthi wis tangi.. sholat tahajjud.. kabehe dadi berkah mas..” ( Ya sejak 2014 mas.. jadi ringan badannya.. tambah semangat sholat malamnya, tidak ketinggalan sholat wajib di masjid.. jam setengah tiga pasti sudah bangun.. sholat tahjjud.. semuanya jadi serba berkah mas..-terj.) jawab beliau.

Plak!!! Hati ini serasa tertampar. Seakan ada yang berkata kepadaku: Lihat!!! Lihat !!! Sosok di sebelahmu itu. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk tahu keutamaan puasa daud. Lihat dirimu, senin-kamis saja acapkali lewat. Puasa 3 hari tiap bulannya boro-boro inget. Lalu apa yang mau kamu banggain di hadapan Allah? Sholat malam saja entah berapa kali sebulan. Padahal kamu sudah tahu keutamaan semuanya itu. Nyesek dengernya.. Suara hatiku itu memang selalu begitu. Tak pernah pandang kondisiku. Nyeplos sekenanya begitu ada yang perlu disampaikan. Tapi bersyukurlah masih ada dia yang mengingatkanku. Alhamdulillah…

Benarlah bila ada yang mengatakan beragama itu awalnya ilmu sebagai dasarnya, tapi kemudian amal yang menjadikannya bermakna. Apa guna ilmu banyak kalau tidak diamalkan. Lebih mending ilmu cukup lalu diamalkan sebisa mungkin.

Ya Allah.. terimakasih untuk pelajaran, untuk tamparan yang engkau tunjukkan pagi itu. Semoga bisa menginspirasiku untuk menjadi lebih baik lagi. Lakukan amal sekuat tenaga, sebisa mungkin asal ada dasarnya. Terimakasih pak Warindi, semoga Allah memberkahi beliau.

Hope

Hope. Harapan. Yup sebuah kata yang emejing, owsem. Di saat kita merasa semua menggelap maka harapan laksana secercah cahaya yang akan menuntun kita melewatinya. Jika demikian adanya maka memelihara harapan adalah sebuah keniscayaan. Harapan yang bersanding dengan keyakinan akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Jangan pernah putus asa, ketika semua jalan seakan tertutup maka tetaplah jaga harapan itu, tumbuhkan keyakinan bahwa sesuatu itu pasti ada jalan keluarnya.