Hope

Hope. Harapan. Yup sebuah kata yang emejing, owsem. Di saat kita merasa semua menggelap maka harapan laksana secercah cahaya yang akan menuntun kita melewatinya. Jika demikian adanya maka memelihara harapan adalah sebuah keniscayaan. Harapan yang bersanding dengan keyakinan akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Jangan pernah putus asa, ketika semua jalan seakan tertutup maka tetaplah jaga harapan itu, tumbuhkan keyakinan bahwa sesuatu itu pasti ada jalan keluarnya.

Kau Ditakdirkan Untukku…

Lama tidak bersentuhan dengan lagu-lagu islami, sekalinya ketemu dengan lagu ini yang entah kenapa langsung berkesan bagi saya. Awal pencarian iseng-iseng mengetik Edcoustic (secara lagu-lagunya sempat jadi teman mengerjakan skripsi dulu, apalagi yang Nantikanku di Batas Waktu.. hehe). Dan dengan kondisi yang sudah berbeda, agaknya lagu ini pas untuk mewakili ungkapan syukur karena telah dipertemukan dengannya. Seseorang yang telah  mengisi hati ini. Ini dia…

Terucap syukurku
aku memilihmu
tuk menjadi teman
hidup setia selamanya

Belahan hati ini
kini telah terisi
aku dan dirimu
mengikat janji bahagia

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
pegang tanganku
tataplah mataku
engkau ditakdirkan untukku

Ikatan suci ini
selalu kan ku jaga
meniti sakinah penuh kasih sayang
dan rahmat-Nya

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta
engkau ditakdirkan untuk-ku

Dan berlayarlah kita renda keluarga
merentas hidup bersama
Aku bahagia
ku dipertemukan belahan jiwaku

Tuhan persatukan kami untuk selamanya
hingga bahagia di surga-Mu
Kau amanahku, istriku tercinta engkau ditakdirkan untuk-ku

Lirik dan Lagu oleh – Inteam feat. Suhaimi & Aden Edcoustic

Link https://www.youtube.com/watch?v=BwR9oFngvXE

#challenge #2
#ODOP
#OneDayOnePost

Aku ingin berlari, Kamunya tidak…

Beberapa waktu yang lalu saya dipanggil oleh pimpinan untuk menghadap. Dalam pertemuan itu beliau menanyakan “ Terkait penerbitan sertifikat mas, ini kenapa selalu mundur bahkan yang angkatan 3 kemarin sudah satu bulan lebih belum jadi? Bolah ruwete (pangkal permasalahannya) dimana? Saya inginnya 10 hari selesai pelatihan, sertifikat sudah bisa dibagikan. Ini sudah banyak komplain yang saya terima“.

Tupoksi sampingan saya di kantor adalah membuat sertifikat. Sebuah tugas sampingan yang tidak bisa dikerjakan sambil lalu. Seringnya saya menghabiskan beberapa hari untuk menuntaskannya. Sudah bertahun-tahun profesi ini saya geluti tentu saja saya paham betul simpul-simpul kemacetan sehingga sertifikat tidak bisa lancar jaya menuju tangan alumni pelatihan. Parahnya kalau sertifikat tak kunjung selesai pasti yang jadi sasaran tudingan pertama tentu saja saya. Ya memang sih yang terlihat jelas dalam hal ini adalah orang yang bertugas mencetak, terpampang nyata hasilnya.

“Begini pak….” saya mulai angkat bicara. Continue reading

Dia, yang wajib dibahagiakan…

Wahai suami, jika ada wanita yang wajib engkau bahagiakan maka tidak lain tidak bukan adalah Ibumu. Ridha ibumu menentukan kebahagiaanmu di dunia dan akhirat.

Wahai istri, jika ada laki-laki yang wajib engkau bahagiakan maka tidak lain tidak bukan adalah Suamimu. Ridha suamimu menentukan kebahagiaanmu di dunia dan akhirat.

Maka bahagiakanlah orang-orang yang engkau wajib membahagiakannya, raihlah ridha-nya dalam setiap langkah hidupmu niscaya Allah akan memberikan ridha-Nya.

Uniknya Orangtua Bermuka Dua

unduhan

Uniknya orangtua bermuka dua. Di hadapan orang banyak, begitu lembut ia menyapa buah hatinya. Panggilan sayang begitu murah tercurah. Peluk dan cium dipamerkan, mengabarkan kalau ia begitu menyayangi anaknya. Sementara anaknya menanggapi dengan wajah ragu, benarkah ini orangtuaku. Kok tiba-tiba begitu lembut dan penyayang.

Uniknya orangtua bermuka dua. Di saat berdua saja atau di dalam kerajaan rumahnya, ia berubah menjadi monster nan menakutkan. Panggilan sayang serasa sudah habis ia tuangkan di hadapan khalayak ramai. Kalimat lembut pun menguap seiring suasana hatinya yang panas menahan kepura-puraan. Tinggallah hardikan, bentakan dan kadang sampai tanganpun dimainkan. Ia benar-benar menjadi raja di rumahnya. Yang segala inginnya haris dituruti, yang semua larangannya harus ditaati. Kalau berani melawan, awas hukuman menanti. Jadilah anak patuh dan taat, tapi berlatarkan takut, bukan kesadaran apalagi bukti sayang.

Wahai kita, iya kita, orangtua. Marilah didik anak-anak kita dengan kelembutan, agar mereka belajar menjadi lembut. Marilah ajari anak-anak kita dengan kesabaran, agar mereka belajar menjadi orang-orang yang sabar. Marilah kita menjadi orangtua yang sebenarnya. Yang senantiasa lembut dan sabar, entahlah di hadapan orang ramai atau hanya berdua saja.

Tengoklah ke dalam diri kita. Apakah anak-anak lebih sering tertawa riang bersama kita, ataukah anak-anak lebih sering menangis diiringi bentakan dan hardikan kita? Tegas itu bukan berarti membentak. Tegas adalah bagaimana kita tetap pada pendirian kita meski anak menangis namun seiring itu kita tetap bisa menghadapi dengan kelembutan.

Saya hanya takut jika saat ini tidak bisa berlaku lembut maka kelak di saat kita menua, tidak takutkah bila anak membentak hanya karena ketidak mampuan kita. Apakah kita akan kembali menghardik dengan mengatakan ‘ anak durhaka, berani sama orangtua ‘. Padahal kitalah yang mengajarkan bentakan dan hardikan itu semenjak kecil.

Yuk jadi orangtua yang lembut..lembut.. dan lembut.. Bukankah “tidaklah kelembutan itu berlaku pada sesuatu melainkan akan menjadikannya indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya buruk”?

Wisuda ya Wis-Sudah… (bagian 1)

wisuda_1

Selasa 19 April 2016 menjadi salah satu  momen penting dalam hidupku. Yup hari itu adalah hari dimana saya mengikuti prosesi wisuda untuk kedua kalinya di Universitas Gadjah Mada. Terbentang jarak yang cukup lama antara prosesi wisuda pertama dengan yang kedua ini, tepatnya delapan tahun dua bulan. Boleh dikatakan, prosesi wisuda merupakan sebuah titik penting dari perjuangan menuntut ilmu. Jika dilihat dalam rentang masa kuliah bisa dibilang wisuda dalah puncaknya, ketika kita dinyatakan paripurna dalam menempuh jenjang pendidikan. Tentu saja jika dilihat dari rentang masa hidup, wisuda hanyalah sebagian titik penting yang tidak boleh menjadi puncak perjuangan karena setelah wisuda perjuangan selanjutnya perlu dihadapi.

Wisuda merupakan sebuah momen dimana segala jerih payah kita selama ini terbayar lunas. Wisuda merupakan saat dimana kita mengajak segenap keluarga untuk ikut berbahagia. Mereka yang selama ini menjadi tempat keluh kesah kita, marah kita, ketidaksabaran kita selama mengerjakan skripsi atau tesis perlu kita bahagiakan, perlu kita persembahkan keberhasilan ini kepada mereka. Karena sejatinya keberhasilan ini adalah karena dukungan mereka, kesabaran mereka menghadapi emosi-emosi kita, kepedulian mereka untuk memahami segala keruwetan dalam menyusun tugas di akhir kuliah ini dan doa-doa mereka yang mungkin kita tidak pernah tahu.

Momen wisuda adalah saat yang tepat untuk mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang telah berjasa kepada kita. Ada tiga kalangan yang perlu mendapat ucapan terimakasih kita yaitu kalangan akademik (dosen dan segenap civitas akademika), keluarga dan teman. Dan pada kesempatan kali ini izinkan saya mengucapkan terimakasih kepada mereka yang telah berjasa sehingga saya berkesempatan mencicipi prosesi wisuda kedua ini.

Terimakasih kepada Bapak Hanung Adi Nugroho, ST, M.E, Ph.D selaku pembimbing utama dan Bapak DR. Ridi Ferdiana, S.T., M.T. selaku pembimbing pendamping yang mana beliau berdua telah bersedia membimbing dan mengajarkan ilmu ( beneran.. bukan cuma sekedar basa-basi pengantar tesis😀 ). Yang telah bersedia menjadi tempat meminta pertimbangan atau konsultasi bahkan di hari libur, via email pula. Yang telah berkenan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Terimakasih kepada beliau berdua..

Juga tak kalah pentingnya ucapan terimakasih kepada para dosen yang telah memberikan wawasannya, membuka mata dan pikiran bahwa ilmu itu luas, dunia itu tak selebar selokan mataram dan memberikan inspirasi serta memunculkan potensi yang terpendam. Intinya jadi lebih waow setelah mendapat siraman dari dosen-dosen. Ada pak Wing Wahyu Winarno ( yang selalu saya tunggu opininya di KR jauh sebelum sempat menjadi mahasiswanya, bahkan sempat berharap diuji oleh beliau, lalu bisa minta foto di sesi akhir😀 ), ada pak Lukito ( yang tugas Layanan Elektronisnya jadi menginspirasi saya), ada Romo Insap ( yang dari beliau saya belajar metodologi riset dan smartPLS, sayangnya saya tidak sempat berkonsultasi dengan beliau, message di Fb gak dibalas sih..😀 ), ada pak Widyawan yang saya belum maksimal dengan materi Audit dan Keamanan Sistem Komputer dan Jaringannya, ada bu Wahyuni yang disegani seluruh kelas, ada bu Silmi yang akhirnya jadi dosen penguji saya dan pertanyaannya sangat membantu. Ada juga pak Eko Nugroho yang dari beliau saya belajar untuk menjawab segala masalah dengan efektif dan efisien, semakin pendek jawaban semakin bagus..😀.  Juga dosen-dosen yang lain yang telah menginspirasi saya.

Selain itu staf pengelola akademik yang telah dengan sabar membantu dalam mengurusi persyaratan-persyaratan, terkadang ada komplain juga, caci maki ( di belakang tapi..😀 ). Semoga secara otomatis terhapuskan kesalahan kita sebagaimana terhapusnya akun internet gratis setelah KTM diserahkan kembali..😀

Bersambung…

Yuk Cari Tahu Kode-kode Bahasa Yang Ada di Dunia…

Mungkin kita pernah menjumpai sebuah formulir digital (saat membuat email atau registrasi online atau yang lain) meminta kita menyebutkan bahasa yang dipilih. Terkadang pilihan ditulis lengkap misal english, indonesia dll. Namun dalam kesempatan lain hanya ditulis eng atau en, ind atau id. Untuk bahasa yang familiar tentu kita sudah tahu maksudnya. Eng atau en maksudnya inggris, Ind atau id maksudnya Indonesia. Tapi bagaimana dengan bahasa yang lain? Yuk kita cari tahu. Continue reading